Beberapa Permasalahan Pencapaian Produksi dan Solusinya

No. Permasalahan Uraian Solusi Strategi
1 Gugur daun berulang menyebabkan daun tipis ·   Curah hujan pada periode pembentukan daun baru menyebabkan daun yang muncul gugur kembali.

·   Daun tipis, fotosintat terbatas

·   Produksi lateks kurang optimal

·   Monitoring gugur daun sejak awal, mulai saat daun mulai gugur (biasanya akhir Desember)

·   Pengendalian gugur daun jika mencapai ambang ekonomis

·   Saat ini upaya pengendalian gugur daun sudah tidak efektif karena daun sudah tua.

·   Cek curah hujan tahun 2017 terutama bulan Januari sampai April. Paling kritis bulan Maret.

·   Identifikasi areal-areal yang daunnya tipis (cari info dari mandor). Biasanya PB 260 atau PB 340.

·   Bandingkan produksi 2017 dan 2016 di areal yang daunnya tipis.

2 Penurunan populasi akibat angin dan jamur akar putih (JAP) ·   Produksi per hektar menurun karena populasi menurun.

·   Pohon-pohon yang rusak (tunggul atau patah cabang) meskipun disadap hasilnya jauh di bawah pohon normal.

·   Serangan JAP tinggi menyebabkan banyak areal hiaten (areal terbuka di tengah blok akibat tanaman mati)

·   Areal yang terserang angin segera dibersihkan, semua pohon yang memungkinkan disadap segera disadap. Tanaman yang rusak ini tidak perlu distimulan karena kesehatannya masih terganggu.

·   Monitoring JAP termasuk pohon-pohon sebelahnya. Aplikasi fungisida jika sudah di ambang ekonomi.

·  Cek laporan kerusakan akibat angin

·  Bandingkan populasi per hektar tahun 2016 dan 2017, ambil sampel beberapa areal yang populasi menurun signifikan

·  Lampirkan data monitoring JAP

3 Respon stimulant kurang optimal ·   Bisa disebabkan daun tipis akibat gugur daun berulang

·   Atau tanaman sudah lelah karena terlalu di eksploitasi

·   Atau aplikasi yang kurang pas. Misalnya konsentrasi stimulan yang kurang dari standar

·   Pengolesan tidak tertib. Masih ada pohon-pohon yang terlewat atau pengolesannya tidak merata di alur

·   Pengawasan aplikasi stimulan. Semua pohon harus dipastikan distimulan.

·   Pengolesan harus sempurna di alur sadap jika pake GEA atau di kulit yang dikerok jika menggunakan SES

·   Cek data respon stimulan, cari areal-areal yang responnya rendah

·   Buat grafik respon stimulant mulai 1-0, 2-1, 3-2 dst.

·   Respon pisau 1-2 (kalau pakai setengah ancak rotasi) di bawah 25% terhitung rendah.

·   Perlu cek ke ancak mungkin ada kendala spesifik.

·   Cek DRC lateks. Di bawah 27% mungkin tanaman sudah lelah.

4 Dalam satu ancak masih ada pohon-pohon yang terlewat tidak tersadap ·  Bisa disebabkan:

·   Alat hilang/rusak

·   Pohon sakit/KAS

·   Pohon susulan, lilit batang kecil

·   Pastikan semua pohon disadap

·   Semua penyadap wajib dibekali mangkok, talang dan kawat ekstra untuk mengganti yang rusak atau hilang

·   Pohon KAS kembali dibuka di panel yang sehat (minta ijin tanaman bila perlu)

·   Pohon susulan / kerdil mulai TM 3 (atau ada acuan lain) segera dibuka karena tidak akan mengejar tanaman normal akibat tajuk sudah tertutup.

·   Cek data KAS, penyadap secara bertahap harus membuka kembali pohon-pohon yang belum tersadap.

·   Inventaris data pohon susulan, hitung potensinya.

5 Arah ancak yang stagnan ·  Ancak terus menerus disadap dengan arah yang sama. Misalnya selama ini penyadap selalu menyadap dari timur ke barat. Hal ini bias menyebabkan pohon-pohon di bagian barat kurang tergali karena disadap siang sedangkan yang di timur bias lelah karena dari pagi sudah mengeluarkan lateks. ·   Secara periodik (misalnya sebulan sekali). Arah ancak dibalik, dari barat ke timur. ·   Perlu dicoba di satu penyadap, lihat efeknya.
6 Recovery kurang optimal ·  Sadap recovery produksinya kurang optimal karena disadap siang setelah selesai ancak utama ·   Perlu dipertimbangkan respon stimulan. Misalnya ancak utama pisau 4-3 sementara ancak recovery pisau 2-1, maka yang terlebih dulu disadap ancak recovernya baru ancak utamanya. Karena respon stimulant pisau 2-1 lebih tinggi dari 4-3. ·   Perlu dicoba di satu penyadap, lihat efeknya.
7 Daerah aliran lateks yang semakin sempit ·  Bisa disebabkan panel yang mendekati kaki gajah

·  Atau sadap atas yang panel sebelahnya sudah terpakai (tinggal sisa ¼S)

·  Potensi lateks terbatas karena jaringan penyuplai lateks terpotong

·   Terkait tata guna panel, tidak ada upaya lain selain menggunakan panel sesuai rekomendasi tataguna panel.

·   Optimalkan melalui cara lain seperti aplikasi stimulan yang efektif, memastikan semua pohon tersadap dll.

·   Cek areal yang posisinya B0-1 atau B0-2 sisa< 25 cm

·   Atau H0-2.2 yang tinggal ¼S (kalau ada)

8 Potensi kulit pulihan belum tergali optimal ·  Pada klon-klon quick starter memang pulihan BI-1 dan BI-2 tidak diutamakan. Namun jika potensial dan produksi masih di bawah target kulit pulihan dapat dipertimbangkan untuk digunakan ·   Kulit pulihan yang potensial disadap

·   Dengan ketentuan:

–    Kulit mulus tidak luka kayu atau benjol

–    Tebal kulit > 7 mm

·   Cek areal-areal yang BI-1 atau BI-2 nya belom dipakai/ digunakan.

·   Jika diijinkan semua pohon wajib menggunakan kulit pulihan seragam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *