Kunjungan Bungaran Saragih Komisaris Utama PT Pupuk Indonesia

bungaran saragih komisaris utama pupuk indonesiaSelasa 16 Mei 2017, Balai Penelitian Sungei Putih kedatangan tamu istimewa. Rombongan kecil sebanyak 4 orang dari PT Pupuk Indonesia yang langsung dipimpin oleh Komisaris Utama Bapak Bungaran Saragih (Menteri Pertanian era Megawati). Kunjungan singkat selama hampir dua jam tersebut dimaksudkan untuk menggali informasi dunia perkaretan Indonesia, peluang pasarnya serta potensi kerjasama riset yang dapat dilakukan. Dalam kesempatan itu juga disampaikan bahwa ke depan tantangan semakin berat mengingat keterbatasan bahan baku pupuk serta wacana dicabutnya subsidi. Oleh karena itu, pengembangan bidang riset menjadi salah satu prioritas demi keberlanjutan usaha.

Secara umum, Balai Penelitian Sungei Putih menyampaikan bahwa para ahli sepakat pemupukan tanaman karet wajib dilakukan selama tanaman belum menghasilkan /TBM, yaitu sekitar lima tahun. Sementara itu pada tanaman karet menghasilkan /TM masih terjadi perbedaan pendapat. Ada yang berpendapat bahwa serasah dari guguran daun karet sudah cukup untuk mengembalikan hara. Balai Penelitian Sungei Putih meyakini bahwa pemupukan di karet TM masih tetap diperlukan. Hal ini dikarenakan adanya massa yang cukup besar yang secara rutin diambil dari perkebunan karet (khususnya berupa lateks) sehingga harus ada juga pengembalian hara untuk menjaga keseimbangan. Balit Sungei Putih memberikan rekomendasi pemupukan berdasarkan analisis daun untuk menentukan dosis dan jenis pupuk yang diberikan pada tanaman karet. Potensi serapan pupuk di perkebunan karet tetap signifikan kendati tidak sebesar perkebunan sawit. Bahwa saat ini terdapat sekitar 3,6 juta luasan karet Indonesia dengan sebagian besar berupa karet rakyat, sedangkan luas perkebunan karet pemerintah ditaksir sekitar 400 ribu hektar.

-ARW-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *