Teknologi Self-Healing; Sebuah Inovasi yang Perlu Dikembangkan

Adalah Charles Goodyear yang menemukan proses vulkanisasi konvensional pada teknologi pembuatan barang jadi karet dengan bantuan panas. Vulkanisasi bertujuan untuk memperbaiki sifat-sifat karet sehingga memiliki nilai penguatan (reinforcement) yang lebih baik terhadap karakteristik mutu produk yang dihasilkan. Pada umumnya, semua industri pembuatan ban melibatkan vulkanisasi dengan menambahkan belerang dan aditif lainnya pada kompon sebelum akhirnya kompon tersebut dimasak (curing) dengan suhu tertentu. Intinya, proses vulkanisasi mengubah struktur karet menjadi struktur ikatan silang antar molekul karet (isoprene) dengan sulfur sehingga menjadikannya lebih elastis. Namun, ketika ban tersebut rusak/robek akibat tertusuk paku misalnya, ban secara otomatis akan kempes dan perlu ditambal karena struktur ikatan silang karet tidak dapat kembali menyatu (irreversible).

Dewasa ini, dilaporkan adanya inovasi baru tentang produk barang jadi karet yang apabila robek, struktur karet tersebut dapat kembali menyatu tanpa melibatkan proses vulkanisasi. Adalah Amit Das dan kesembilan peneliti lainnya yang berasal dari Institut für Polymerforschung Dresden, Technische Universität Dresden, Jerman dan Tampere University of Technology, Finlandia yang tergabung dalam riset “Ionic Modification Turns Commercial Rubber into a Self-Healing Material”. Dalam riset tersebut, Amit Das et al. menggunakan karet sintetik jenis Bromobutyl Rubber (BIIR) dimana bromin dari karet tadi dapat ditranformasikan ke dalam ion imidazolium bromide yang dapat berfungsi memperbaiki struktur karet dengan sendirinya jika terpotong/robek. Dilaporkan juga bahwa karakteristik karet BIIR, seperti modulus elatisitas, kuat tarik, dan lainnya lebih unggul dibandingkan mutu karet dengan cara vulkanisasi (konvensional).

Teknologi self-healing merupakan teknologi baru yang didesain untuk menciptakan keamanan dan kenyamanan dalam berkendara. Dan memang saat ini juga terdapat teknologi anti bocor berupa cairan yang dimasukkan ke dalam ban. Ketika ban tertusuk paku, cairan tersebut dapat menutupi kebocoran udara di dalam ban. Namun, pasalnya cairan tersebut dapat mengganggu kinerja ban dan juga dapat mengakibatkan korosi pada velg, sehingga cairan anti bocor ini tidak direkomendasikan oleh produsen ban.

Ini merupakan tantangan ke depan, khususnya lembaga riset karet untuk membuat terobosan baru dari karet alam yang sifatnya mampu memperbaiki kerusakan dengan sendirinya. Dengan prinsip pahami-tiru-modifikasi dalam penelitian merupakan metode yang sah-sah saja untuk dilakukan dalam upaya pengembangan riset. Dapat dibayangkan jika karet alam mampu dimodifikasi dengan teknologi self-healing lantas kemudian dapat dijadikan produk yang ramah lingkungan tentunya permintaan pasar atas karet alam akan meningkat dan otomatis harga pun juga semakin menggairahkan. Itulah salah satu strategi untuk mendongkrak harga karet alam dan kemajuan lembaga riset. Semoga!

-AND-

Referensi :

Das, A., A. Sallat, F. Bohme, M. Suckow, D. Basu, S. Wiebner, K.W. Stockelhuber, Brigitte Voit and G. Heinrich. 2015. Ionic Modification Turns Commercial Rubber into a Self-Healing Material. ACS Appl. Mater. Interfaces, 7 (37), pp 20623–20630

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *