Triko SP Plus Biofungisida Pengendali JAP

triko sp jamur akar putih karet

Penyakit utama pada tanaman karet adalah Penyakit Jamur Akar Putih (JAP) yang dapat menyebabkan kerugian hingga 30 – 40 % karena berkurangnya populasi tanaman per hektar yang mempengaruhi jumlah produksi pada areal tersebut.

Gejala khas serangan penyakit ini ditandai dengan adanya miselium/ benang-benang jamur berwarna putih yang melekat pada kulit akar tanaman karet.  Akar yang terserang akan busuk sehingga mengakibatkan translokasi air dan unsur hara menjadi terganggu yang menyebabkan daun menjadi kuning, kusam, mengering, dan akhirnya gugur.

Penyakit Jamur Akar Putih disebabkan oleh jamur yang memiliki beberapa nama latin, antara lain Rigidoporus microporus, Rigidoporus lignosus, ataupun Fomes lignosus.

Pengendalian penyakit ini secara biologi dilakukan dengan memanfaatkan agensia hayati/musuh alami. Salah satu musuh alami dari penyakit JAP adalah Trichoderma. Biofungisida yang berbahan aktif Trichoderma dan sudah cukup terkenal di perkebunan-perkebunan besar yakni Triko SP PLUS yang mengandung  dua jenis Trichoderma yaitu T. koningii dan T. viridae. Biofungisida Triko SPPlus dikembangkan/ diproduksi oleh  Balai Penelitian Sungei Putih sejak tahun 2002.

triko sp plus, jap karet

Biofungisida Triko SPPlus diformulasi dalam bentuk serbuk dengan kerapatan kandungan bahan aktif 18 – 20 x 106  spora/ g produk. Masa kadaluwarsa produk adalah setelah 3 bulan dari tanggal produksi. Produk ini dikemas dalam karung plastik dengan berat 5 dan 25 kg / kemasan.

Keuntungan penggunaan Triko SPPlus untuk mengendalikan penyakit JAP antara lain :

  • Mudah diaplikasikan, hanya dengan menaburkan produk ini ke sekeliling pangkal batang tanaman karet atau ke dalam lubang tanam kemudian menutupnya dengan tanah.
  • Murah, biofungisida Triko SPPlus + 20% jauh lebih murah bila dibandingkan dengan fungisida kimia bila diaplikasikan dengan jumlah tanaman atau areal yang sama.
  • Efektif, tanaman yang terserang penyakit JAP pada serangan awal yaitu skala 1 atau 2 dapat disembuhkan dengan biofungisida ini secara efektif.
  • Aman dan Ramah Lingkungan, produk biofungisida ini berbahan aktif mikroorganisme hayati dan tidak mengandung bahan-bahan kimia yang dapat meracuni tanaman ataupun yang dapat membahayakan petani dan lingkungan.
  • Menyuburkan Tanaman, salah satu bahan aktif Triko SPPlus bersifat sebagai dekomposer yang dapat mendekomposisi JAP yang telah mati menjadi sumber hara bagi tanaman yang terserang.

Penggunaan biofungisida Triko SPPlus sebaiknya dipadukan dengan tindakan pencegahan lainnya untuk mendukung program PHT (pengendalian hama terpadu) dari pemerintah dan untuk memaksimalkan pengendalian penyakit ini secara menyeluruh. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain penggunaan bibit yang bebas dari miselium/ benang-benang JAP, perlindungan pada tanaman muda di polibeg maupun pada saat pindah tanam ke lapangan dengan pemberian produk ini, pembongkaran sumber penularan/ inokulum penyakit dan termasuk juga tindakan isolasi dengan pemberian biofungisida ini, dan monitoring dini.

Dosis dan aplikasi biofungisida Triko SPPlus berbeda untuk masing-masing stadia pertumbuhan tanaman, yaitu :

  • Pembibitan batang bawah 600 kg/ ha/ aplikasi
  • Bibit polibeg 50 g/ polibeg
  • Tanaman Belum Menghasilkan pada saat tanam 50 g/ lubang tanam, TBM umur 6 bulan – 3 tahun 50 g/ pohon/ aplikasi, TBM umur 4 – 5 tahun 75 – 100 g/ pohon/ aplikasi. Interval aplikasi adalah 6 bulan sekali.

Tanaman Menghasilkan 100 – 150 g/ pohon/ aplikasi. Interval aplikasi adalah 6 bulan sekali. Tanaman jirar (4 pohon di sekitar tanaman sakit) sebaiknya juga diaplikasi dengan 100 – 150 g produk ini/ pohon/ aplikasi.

6 thoughts on “Triko SP Plus Biofungisida Pengendali JAP”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *